WELCOME.... HOLLA.. SELAMAT DATANG....

Yang mau lihat-lihat, cuci mata, look-at", silakan.. GRATIS!!

Tapi bagi yang BERMINAT, buruan SIKAAATT, dijamin buat hati MEMIKAT dan jangan sampai salah LIHAT...

CEKIDOOTZ..

Minggu, 04 April 2010

Tahukah Anda, apa kekuatan utama dalam bisnis? Uang? Bukan. Kekuasaan? Juga Bukan Lalu, Apa? Cinta!!!!


Ya kekuatan utama yang mampu menggerakkan bisnis kita hingga mencapai kesuksesan adalah cinta. Dalam berbisnis, kita sering lupa bahwa yang sering kita hadapi setiap hari sebenarnya adalah manusia, bukan mesin atau komputer. Sukses-tidaknya kita berbisnis banyak bergantung dari dukungan orang2 di sekitar kita. Jika mereka mencintai kita, tentu mereka akan dengan sepenuh hati memberikan segalanya buat diri kita.
Bayangkan saja jika anda sedang jatuh cinta kepada seseorang. Anda tentu selalu berusaha menyenangkan sang kekasih bukan? Apapun yang dimintanya pasti akan diupayakan sekuat tenaga untuk dipenuhi anda.

Selain itu, kita pun harus mencintai apa yang kita kerjakan. Dengan demikian, kita akan melakukan pekerjaan itu dengan tulus, penuh komitmen, dan berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita. Maka, cinta bukan hanya elemen paling penting dalam kehidupan pribadi kita. Dalam kehidupan profesional atau bisnis, cinta juga sangat berperan penting.
Ini pula yang dikemukakan Tim Sanders, Chief Solution Officer di Yahoo!, dalam bukunya Love is The Killer App. Untuk berhasil dalam bisnis, seseorang harus menjadi apa yang disebut oleh tim sanders sebagai ‘lovecat’. ‘lovecat’ adalah seorang yang pintar, mampu menyenagkan orang lain, dan mencintai apa yang dikerjakannya dengan sepenuh hati.

Seorang ‘lovecat’ akan terus berupaya menambah pengetahuannya (knowledge) dalam berbagai bidang. Namun pengetahuan ini baru akan berguna jika ia membaginya dengan orang lain. Karena itu ia juga harus terus menjalin dan mengembangkan relasi dengan semua orang (network). Seorang ‘lovecat’ juga harus bisa menunjukkan rasa empati kepada orang lain dan tidak segan2 membantu jika diperlukan (compassion). Orang akan mengingat perlakuan baik kita ini. Dan jangan lupa, sikaf ini juga akan membuat orang lebih mudah memaafkan jika kita membuat kesalahan.

Ketiga asset tidak terlihat inilah (intangible assets) inilah-pengetahuan (knowledge), menjalin relasi (network), serta rasa empati dan keinginan untuk selalu membantu (compassion)- yang harus terus dikembangkan dalam diri kita. Inilah aspek-aspek penting yang akan membuat kita mampu mempengaruhi orang lain, dan akhirnya membuat mereka menghargai kita sebagai seorang rekan ataupun pemimpin.

Kita juga harus menyadari, bisnis sebenarnya adalah sebuah permainan. Tentu saja, kita semua ingin memenangkan ‘permainan bisnis’ ini. Pemenang permainan ini adalah orang yang mencintai apa yang ia kerjakan dengan memahami aturan-aturan permainan secara baik.
Namun jika dibandingkan dengan pria, wanita tidak mengetahui dan memahami sebagaian besar aturan itu. Akibatanya, mereka kurang berhasil dalam ‘permainan bisnis’ ini. Bisa kita lihat hanya sedikit wanita yang berhasil menduduki posisi puncak di berbagai perusahaan. Mengapa?
Pria tahu dan paham aturan-aturan ini karena mereka menciptakannya. ‘permainan bisnis’ ini telah dimainkan oleh pria sejak masih sangat muda. Di lain pihak, wanita tidak pernah diajarkan bagaimana cara memainkan ‘permainan bisnis’ ini.

Dalam bukunya Play Like A Man, Win Like A Woman, Gail evans, seorang executive vice President di CNN, bahwa memang sudah dari sononya, pria lebih agresif, lebih terus terang, berani mempromosikan diri, ‘berkulit badak’ dan lebih mementingkan kemenangan daripada menjaga hubungan baik.

Sebaliknya, wanita diajarkan untuk lebih bersikap kooperatif daripada kompetitif, lebih menikmati proses daripada hasil, dan lebih mencari persetujuan daripada mencari kesuksesan. Wanita juga cenderung tidak berani mengungkapkan pendapatnya, karena takut dianggap salah atau tidak sopan. Sifat-sifat dan sikap-sikap yang kelihatannya saling bertolak belakang inilah yang membuat sebagian sebagian wanita kurang berhasil menjadi pemimpin di lingkungan bisnis yang didominasi pria.

Jangan salah, wanita tidak harus ‘menjadi’ pria untuk berhasil dalam bisnis. Memang, wanita harus mengetahui dan memahami aturan-aturan ‘permainan bisnis’ ini. Namun, ia harus tetap bersikap sebagai seorang wanita . dengan kata lain, seorang wanita harus mencintai ‘permainan bisnis’ ini dan sekaligus mencintai dirinya sendiri.

Di dunia bisnis , keunggulan kompetitif utama kita sebagaian besar berasal dari feel benefit, bukan think benefit. Feeling atau perasaaan merupakan akar yang dalam banyak hal mempengaruhi semua prilaku, karena perasaan terkait dengan emosi. Emosi sangat mempengaruhi pemikiran seseorang. Emosi membentuk dan mempengaruhi penilaian. Emosi pula yang membentuk prilaku.

Ingatlah pula, emosi ini ‘menular’. Maksudnya, jika karyawan perusahaan tidak merasa nyaman dengan apa yang dikerjakannya, tentu ia tidak akan mampu memberikan perasaan nyaman pula kepada pelanggan. Sebaliknya, jika karyawan itu mencintai apa yang ia kerjakan, tentu ia akan dengan senang hati melayani pelanggan dan membuat pelanggan merasa nyaman pula.
Maka, perhatikan pula hal ini dengan sungguh-sungguh!

Pemenang utama dalam ‘permainan bisnis’ adalah orang yang mencintai apa yang dikerjakannya. Kita tidak dapat bermain dengan baik jika kita tidak menikmatinya. Maka, cintalah sebenarnya kebutuhan utama dan satu-satunya bagi kita, baik dalam kehidupan pribadi maupun professional. Ingat apa yang dikatakan The Beatles, band legendaris yang juga band favorit saya, All You Need is Love

Tidak ada komentar:

Posting Komentar